Kematian Sebagai Nasihat

Mohon maaf, cuma mengkoleksi saja

Oleh Mashadi

Oase Iman - eramuslim.com

Sebuah hadist menyebutkan, orang yang cerdas adalah orang selalu mngingat kematian. Dengan mengingat kematiana itu, manusia akan mengorientasikan seluruh hidupnya untuk kebaikan.

Ketika manusia mengingat kematian, mereka pasti akan menggunakan potensi-potensi dirinya hanya untuk beramal kebaikan. Manusia yang selalu mengingat kematian akan memutus dan menarik garis pembatas dengan segala perbuatan dosa, serta tidak akan pernah berkompromi dengan perbuatan durhaka.

Manusia pasti melalui iring-iringan kematian, mengingat akhir kehidupan yang pasti datang ini, waktu yang sudah Allah Ta’ala takdirkan buat anak Adam, di mana ketika itu, seorang tiran menjadi hina, pendurhaka menunduk lesu, pendosa ingin bertobat, dan orang-orang yang memberontak terhadap kekuasaan Rabbnya menjadi murung dan sedih.
Kematian adalah saat yang memilukan. Kematian akan sama-sama dialami oleh para raja, para penguasa, rakyat jelata, atasan dan bawahan, si kaya dan si miskin. Tak ada satupun keturunan anak Adam, yang luput dari peristiwa kematian.

Betapa pun panjang usia, dan betapa asyik masyuknya dengan masa muda, yang sehat dan gagah, manusia tetap akan mengalami saat kematian. Walaupun, manusia memiliki mobil-mobil, gedung-gedung, tinggal di apartemen yang super luk dan mewah, memakai pakaian yang terbuat dari sutera yang halus dan lembut, menikmati berbagai makanan restoran yang serba lezat, saling berkunjung dan banyak mengumbar gelak dan tawa, ketika datang kematian, semuanya itu pasti pupus dan tak berarti apa-apa.

Kadang-kadang manusia lupa akan kematian. Karena tenggelam dalam kenikmatan dunia, yang hanya sebentar itu. Kadang-kadang kehidupan dunia membuat manusia terhempas dalam khayalan yang tak ada ujungnya. Mereka terus menerus melanglang mengikuti hawa nafsunya, yang seakan tak berbatas. Manusia ingin mereguk segala kenikmatan dunia. Manusia yang mengejar kenikmatan dunia itu, bagaikan mereka yang mengejar fatamorgana di padang pasir, yang tak pernah mendapatkan kepuasan, dan tak pernah menemukan air yang dapat menghilangkan rasa dahaganya.

Mengapa manusia menjadi lupa terhadap hakekat tujuan hidupnya? Mengapa manusia melupakan akan pertanggung-jawaban yang pasti akan diminta oleh Sang Pencipta Allah Rabbul Azis itu? Mengapa manusia berkhianat terhadap dzat yang menciptakan dirinya? Mengapa manusia hanya menghabiskan waktunya untuk bersenda gurau dan main-main? Mengapa manusia memilih bergaul dan bercengkerama dengan para ahlul maksiat dan ahlul bathil?

“Tidak ada tempat yang bisa didiami seseorang setelah mati,
kecuali yang telah ia kerjakan sebelum mati.
Jika ia mengerjakan kebajikan, maka tempatnya pun baik,
tapi bila ia mengerjakan kejahatan, maka akan celakalah pembuatnya.
Buat ahli waris yang sibuk megumpulkan harta benda dunia,
pasti tak ada gunanya bagi mereka yang sudah mati”.

Suatu saat, tatkala ajalnya sudah mendekat Amr Ibn Ash menangis lama ….Kapan lagi seseorang menangis bila tidak pada saat seperti ini? Dan, ketika ia sedang menangis, datanglah anaknya yang sangat zuhud yaitu Abdullah. Ia mengingatkan ayahnya agar berbaik sangka kepada Allah Ta’ala, dan selalu menaruh harapan kepada-Nya.

“Bukankah engkau telah masuk Islam, ayah?”, tukas Abdullah. “Engkau telah ikut hijrah bersama Rasulullah Saw?”, tambahnya. “Bukankah Rasulullah Saw telah mengangkat engkau menjadi panglima perang?”, lanjut Abdullah. “Bukankah ayah telah menaklukan Mesir?”, tegas Abdullah. Tapi, justru Amru Ibn Ash memalingkan mukanya ke dinding, sambil menangis panjang. Lalu, menghadapkan wajahnya ke orang-orang yang di sekelilingnya. Amru Ibn Ash menangis panjang, ketika ia mengingat kembali sebelum masuk Islam. “Adakah dosa-dosaku akan dihapuskan, ketika kelak aku menghadap Rabb?”, gumam Amru Hanya satu kalimat yang masih tersisa padaku, yang akan kujadikan hujjah dihadapan Allah Ta’ala yaitu: “Laa ilaaha illallah, Muhammad Rasulullah”.

Tentu, kalau ada orang yang dapat lolos dari kematian adalah Nabi Muhammad Saw. Tapi, kenyataannya tidak, dan Rasulullah Saw melewati saat yang juga dilewati manusa biasa.Padahal Rasulullah Saw adalah manusia yang paling mulia, dan kekasih Allah Rabbul Azis. Hanya bedanya dengan manusia biasa, beliau menerima kematian dengan lapang dada, karena telah banyak melakukan amal kebajikan.

Imam Bukhari dan Imam Muslim meriwayatkan bahwa Rasulullah Saw, ketika menghadapi sakaratul maut, mengambil khamishah (kain kecil), dan menaruhnya di wajah beliau, karena beratnya kondisi yang beliau hadapi. Lalu, beliau berdoa: “Laa ilahaa illallah…laa ilaaha illallah … laa ilaaha illallah. Sungguh, kematian itu amat pendih. Ya Allah, bantulah aku menghadapi sakaratul maut. Ya Allah, ringankanlah sakaratul maut ini buat ku”.

Aisyah menuturkan: “Demi Allah, beliau mencelupkan kain itu ke air, lalu meletakkannya di atas wajahnya”. Lalu, beliau berdoa: “Ya Allah, bantulah aku menghadapi sakaratul maut”. Mengapa Rasulullah Saw berdoa seperti itu? Para Sahabat menafsirkan, beliau berdoa demikian, karena diberi dua pilihan. Diperpanjang usianya atau bertemu Tuhannya. Tetapi, beliau, ‘justru memilih teman Tertingginya (Rabbnya)’. “Aku ingin segera meninggalkan dunia ini … aku ingin meninggal saat ini”, ujar Rasulullah Saw.

Beliau tahu, betapapun panjangnya usia dan jauhnya ajal, beliau tetap akan mengalami kematian. Wallahu ‘alam

Bulan Sya'ban

Bagaimana sikap kita terhadap datangnya bulan Sya'ban?

Dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha berkata: “Adalah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa alihi wa sallam berpuasa sampai kami katakan beliau tidak pernah berbuka. Dan beliau berbuka sampai kami katakan beliau tidak pernah berpuasa. Saya tidak pernah melihat Rasulullah menyempurnakan puasa satu bulan penuh kecuali Ramadhan. Dan saya tidak pernah melihat beliau berpuasa lebih banyak dari bulan Sya’ban.” (HR. Bukhari No. 1833, Muslim No. 1956). Dan dalam riwayat Muslim No.1957 : ”Adalah beliau shallallahu ‘alaihi wa alihi wa sallam berpuasa pada bulan Sya’ban semuanya. Dan sedikit sekali beliau tidak berpuasa di bulan Sya’ban.”

Dari Usamah bin Zaid berkata, saya bertanya, “Wahai Rasulullah saw, saya tidak melihat engkau puasa di suatu bulan lebih banyak melebihi bulan Sya’ban.” Rasul saw bersabda, "Bulan tersebut banyak dilalaikan manusia, antara Rajab dan Ramadhan, yaitu bulan diangkat amal-amal kepada Rabb alam semesta, maka saya suka amal saya diangkat sedang saya dalam kondisi puasa.” (HR Ahmad, Abu Dawud, An-Nasa’i dan Ibnu Huzaimah)

Dikit aja... ga bisa ngomong banyak.

Makna Hidup?

bengongMakna hidup ini sebenarnya apa?

Kenapa Kita Hidup didunia?

Kenapa Kita Ada?

"Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembahKu." (Adz-Dzariyat: 56)

Sesungguhnya kehadiran manusia dimuka bumi ini tidak untuk main–main dan senda gurau, tetapi dengan suatu kepastian arah dan tujuan. Bahkan sebelum limpahan tugas dan tanggungjawab besar itu dibebankan kepada manusia telah ditawarkan kepada makhluk Allah yang lain. (QS. Al Ahzab : 72)

“Maka apakah kamu mengira, bahwa sesungguhnya Kami menciptakan kamu secara main-main (saja), dan bahwa kamu tidak akan dikembali-kan kepada Kami?” (Al-Mukminun: 115)

“Sesungguhnya Allah adalah Maha Mengetahui lagi Mahabijaksana.” (Al-Ahzab: 1)

Marhaban Yaa Ramadhan

Tak terasa kita sudah berada di bulan Sya'ban sahabat, berarti tak lama lagi semoga kita disampaikan pada bulan Ramadahan. Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Apabila datang Ramadhan, pintu-pintu surga dibuka, pintu-pintu neraka ditutup dan setan-setan dibelenggu.” [HR. Al-Bukhari dan Muslim].Ramadhan Datang

“Apabila datang awal malam dari bulan Ramadhan, setan-setan dan jin-jin yang sangat jahat dibelenggu, pintu-pintu neraka ditutup tidak ada satu pintupun yang terbuka, sedangkan pintu-pintu surga dibuka tidak ada satu pintupun yang ditutup. Dan seorang penyeru menyerukan: ‘Wahai orang yang menginginkan kebaikan kemarilah. Wahai orang-orang yang menginginkan kejelekan tahanlah.’ Dan Allah memiliki orang-orang yang dibebaskan dari neraka, yang demikian itu terjadi pada setiap malam.” [HR. At-Tirmidzi]

Banyak keutamaan yang Allah berikan di bulan Ramadhan. Bulan Ramadhan bagaikan bulan Obral bagi kaum muslimin. Dimana didalamnya penuh rahmat, maghfirah dan pahala yang berlipat untuk setiap kebaikan dan ibadah yang dilakukan.

Keutamaan RamadhanDiantara keutamaan-keutamaan Ramadhan adalah antara lain, pada bulan Ramadhan pula terdapat malam Lailatul Qadar. Allah SWT berfirman: “Sesungguhnya Kami telah menurunkan Al Qur’an pada malam kemuliaan. Tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu? Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan. Pada malam itu turun malaikat-malaikat dan malaikat Jibril dengan izin Tuhannya untuk mengatur segala urusan. Malam itu penuh kesejahteraan hingga terbit fajar.” [Al-Qadar: 1-5]

Di bulan Ramadhan juga dosa-dosa kita dihapuskan, sebagaimana sabda Baginda Rasulullah, “Barangsiapa yang berpuasa Ramadhan dengan keimanan dan mengharap ridha Allah, akan diampuni dosa-dosanya yang terdahulu.” [HR. Al-Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah]

Oleh karena itu sahabat marilah kita persiapkan diri menyambut datangnya bulan yang dinanti-nanti ini. Semoga Allah memberikan karunia kita umur panjang untuk disampaikan di bulan Ramadahan tahun ini.

Menolak Bantuan [Sebaiknya Jangan Dilakukan]

Suatu hari di kantor, Yusuf dan Rizki melihat saya kewalahan mengerjakan pekerjaan kantor yang kali ini lebih banyak dari biasanya. "Butuh bantuan Om?" Rizki menawarkan bantuan ke saya. "Gak usah Ki, kayaknya aku bisa kerjain sendiri kok" jawabku, bermaksud tidak mau merepotkan orang lain dengan urusanku. Tidak kusangka sebuah perkataan dilontarkan Yusuf ini akan membuat saya berpikir kembali tentang prinsip saya tersebut, "Yu, berilah kesempatan orang untuk berbuat baik dan menambah pahala." inilah perkataan Yusuf itu.

Saya benar-benar tidak habis pikir, prinsip saya untuk tidak mau merepotkan orang dengan urusan saya selama ini salah total. Ya Allah semoga ini bukan suatu dosa.

Bantuan


Dengan menerima bantuan dari orang lain kita telah memberikan kesempatan kepada orang lain untuk berbuat baik dan menambah pahala. Maka dari itu jangan kikir pada orang lain, berilah kesempatan orang membantu kita. Jangan kelewatan, jangan sampai menjadi orang yang cuman mengandalkan bantuan dari orang. Sikap Mandiri perlu juga bicara.

Wasiat Ibu


Suatu hari murabbi saya menyampaikan sebuah cerita.
"Based on true story" tentunya. Dia memiliki yang telah meninggal ibundanya.
Ibunda sahabat murabbi saya berwasiat kepadanya. Sebuah mutiara hikmah yang indah.\,
beliau berpesan bahwasanya jika hendak membeli sesuatu ke pasar belilah ke Penjual yang paling sepi pembelinya.

Ternyata seorang ibu ini sangat memperhatikan hal hal kecil seperti ini. Berbeda dengan khalayak ramai lainnya. Ketika mau membeli sesuatu atau barang keperluan di pasar tentu akan mencari penjual yang paling laris banyak diserbu pembeli karena harganya sudah tentu murah dan barangnya banyak diminati pembeli. Tapi tidak dengan ibu sahabat murabbi saya, beliau menilai perbuatan kecil ini akan menghadirkan kenikmatan tersendiri. Dengan membeli di penjual yang paling sepi dagangannya, penjual tersebut akan merasa berbahagia. Dengan menghadirkan sedikit kebahagian pada orang lain, niscaya hidup akan lebih berarti.

Begitulah seharusnya hidup. Hidup kita seharusnya memberikan kebahagian-kebahagian kepada orang-orang disekeliling kita. Apakah selama ini kita memberikan kebahagiaan kepada orang-orang disekitar kita atau menambah masalah? mari kita berinstrospeksi.

Jangan Biarkan Dirimu Hancur (Kamu sangat Berharga)

Suatu ketika, ada seorang sahabat memulai kotbahnya dengan mengeluarkan selembar uang seratus ribu yang baru. Kemudian dia bertanya "Siapa di antara kamu yang mau uang ini, jika diberikan ikhlas padamu?" Langsung saja yang mengangkat tangan banyak sekali.
Katanya lagi " Ya, ini akan saya berikan, tapi sebelumnya biar saya melakukan hal ini". Sahabat tersebut meremas uang kertas seratus ribu itu, menjadi gulungan kecil yang kumal.

Kemudian dia buka lagi ke bentuk semula : lembaran seratus ribu, tapi sudah kumal sekali. Lalu dia bertanya " Siapa yang masih mau uang ini?" Tetap saja banyak yang angkat tangan, sebanyak yang tadi.

"Oke, akan saya kasih, tapi biarkan saya melakukan hal ini". Dia menjatuhkan lembaran uang itu ke lantai, terus diinjak-injak pakai sepatunya yang habis berjalan di tanah becek sampai nggak karuan bentuknya. Dia tanya lagi" siapa yang masih mau?" Tangan-tangan masih saja terangkat. Masih sebanyak tadi.

"Nah, sahabatku, sebenarnya aku dan kau sudah mengambil satu nilai yang sangat berharga dari peristiwa tadi. Kita semua masih mau uang ini walau bentuknya sudah nggak karuan lagi. Sudah jelek, kotor, kumal... tapi nilainya nggak berkurang: tetap seratus ribu rupiah.

Sama seperti kita. Walau kau tengah jatuh, tertimpa tangga pula... tengah sakit, tengah hancur pula, atau kau gagal, nggak berdaya, terhimpit, dan merasa terhina, kecewa dan terkhianati, atau dalam keadaan apapun, kau tetap nggak kehilangan nilaimu... karena kau begitu berharga. Jangan biarkan kekecewaan, perasaan, ketakutan, sakit hati, menghancurkan kamu, harapanmu, atau cita-citamu. "

"Kamu akan selalu tetap berharga, bagi dirimu, bagi diriku, bagi sahabatmu, bagi sahabat yang lain dan kau tetap sama dimata Tuhanmu. Dia, Tuhanmu, akan berlari mendekatimu, jika kau berjalan menuju-Nya. Aku pun sahabatmu akan melakukan hal yang sama, karena fithrah setiap diri kita akan mulia jika mencoba mendekati sifat2 Tuhan kita. Disanalah nilai dirimu berada."

Bantuan


Waktu untuk berbahagia adalah sekarang
Tempat untuk berbahagia adalah disini
Cara untuk berbahagia adalah dengan membuat orang lain bahagia
Karena....
Refleksi syukur kepada Allah adalah dengan membagikan kebahagiaan kita kepada orang lain
Walaupun bagi dunia kamu mungkin hanyalah seseorang
Tetapi bagi seseorang kamu adalah dunianya
Tetaplah lakukan kebaikan meskipun sering dilupakan orang
Biarlah amalan ini menjadi pembicaraan malaikat di langit
Ya Allah...
Jadikanlah kerja kecil ini sebagai kendaraan yang akan mengantarkan kami menuju ridha & surga-Mu

Thx to:
Amien.. and
Andoko W
Udah ngirimin artikel keren ini

Copyright © 2008 - Ardi's Blog - is proudly powered by Blogger
Smashing Magazine - Design Disease - Blog and Web - Dilectio Blogger Template